KARAKTERISASI KIJING (Pilsbryoconcha exilis) DI PERAIRAN SITU GEDE, BOGOR

KARAKTERISASI KIJING (Pilsbryoconcha exilis)

DI PERAIRAN SITU GEDE, BOGOR

Muhammad Hafiz (C34070087)

Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Institut Pertanian Bogor

Tanggal : 12 Maret 2009

ABSTRAK

Kijing atau Pilsbryoconcha exilis tergolong dalam moluska yang hidup di dasar perairan dan makan dengan cara menyaring makanan yang ada di dalam air atau filter feeder. Hewan ini berbentuk simetri bilateral yang terdiri dari dua cangkang. Kijing memiliki kandungan protein yang tinggi dan kandungan asam lemak tak jenuh yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kijing dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang biasa dijadikan kerupuk oleh masyarakat, namun produksi kijing belum banyak dimanfaatkan masyarakat walaupun kijing memiliki potensial yang besar sebagai bahan pangan yang bergizi tinggi. Penentuan karakteristik kijing ditujukan supaya kita mengetahui ukuran, rendemen, komposisi kimia dan kemunduran mutu yang bermanfaat dalam menentukan besar kecilnya nilai gizi yang dikandung kijing untuk dijadikan bahan pangan. Dalam praktikum ini menunjukkan nilai-nilai yang terkandung dalam kijing antara lain, yaitu ukuran dan berat kijing, rendemen kijing, komposisi kimia kijing dan kemunduran mutu kijing. Berat total rata-rata kijing sebesar 27.5 gr, panjang total rata-rata kijing sebesar 92.46 mm, tinggi total rata-rata kijing sebesar 16.86 mm dan lebar total rata-rata kijing sebesar 41.54 mm. Rendemen atau bagian tubuh yang dimanfaatkan pada kijing didapat yang terbesar pada cangkang yaitu 54.12%, sedangkan pada daging dan jeroan masing-masing sebesar 20.19% dan 25.69%. Kandungan proksimat pada kijing berupa kadar air yang didapat dari hasil pengamatan yaitu sebesar 8208%, kadar abu didapat sebesar 2,74%, protein didapat sebesar 8,20%, lemak sebesar 1,44% dan kandungan karbohidrat didapat sebesar 5,54%. Pada tahapan yang terakhir diketahui nilai kemunduran mutu yang diamati setiap hari selama satu minggu. Diperoleh hasil bahwa kijing kecil tanpa jeroan lebih cepat mengalami kemunduran mutu daripada kijing kecil utuh dan kijing besar utuh lebih cepat mengalami kemunduran mutu daripada kijing besar tanpa jeroan.

Kata kunci : kijing lokal (Pilsbryoconcha exilis), morfometrik, rendemen, proksimat, dan kemunduran mutu


1.  PENDAHULUAN

Kijing merupakan hewan yang hidup di dasar perairan dan makan dengan cara menyaring makanan yang ada di dalam air juga terdapat di dalam organ-organ seperti insang, ginjal dan hatinya, sehingga polutan yang ada di dalam air dapat diliat dari kandungannya di dalam organ tersebut. Gambar kijing dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Kijing (Pilsbryoconcha exilis)

Sumber : (Anonim 2007)

Hewan ini berbentuk simetri bilateral yang terdiri dari dua cangkang. Bila dilihat dari luar, cangkangnya berwarna hijau kebiru-biruan atau kecoklat-coklatan dengan bercak putih.

Hewan ini tergolong filter feeder yaitu jenis hewan yang mendapatkan makanan dengan jalan menyaring air yang masuk ke dalam tubuhnya.

Alat pencernaannya berturut-turut terdiri dari mulut yang tidak berahang atau bergigi, sepasang labial palps yang bercilia, oesofagus, lambung, usus, rektum, dan anus. Selain alat pencernaan, di dalam tubuh kerang terdapat pula hati yang menyelubungi dinding lambung, ginjal, pembuluh darah, dan pembuluh urat saraf.

Umumnya kijing dapat mengatur tingkat metabolisme oksigen dengan baik sehingga masih dapat hidup pada keadaan di mana kadar oksigen dalam air sangat sedikit (Hart dan Faller 1974 diacu dalam Sulistiawan 2007).

Pertumbuhan kijing dapat dilihat dari garis-garis di sekeliling umbo yang merupakan garis pertumbuhan tahunan (Anwar 1980 diacu dalam Sulistiawan 2007). Umbo merupakan titik awal pertumbuhan cangkang, sedangkan garis pertumbuhannya berikutnya menggambarkan jarak/interval dari fase terjadinya pertumbuhan dengan fase tidak terjadinya pertumbuhan.

Klasifikasi kijing (Pilsbryoconcha exilis) menurut Jutting 1953 diacu dalam Sulistiawan 2007 :

Filum      : Moluska

Kelas      : Pelcypoda (Bivalvia)

Famili     : Unionidae

Genus     : Pilsbryoconcha

Spesies   : Pilsbryoconcha exilis Lea

Pilsbryoconcha exilis termasuk ke dalam filum moluska. Ciri umum dari filum ini mempunyai bentuk tubuh bilateral atau simetris, tidak beruas-ruas, tubuh lunak dan ditutupi mantel yang menghasilkan zat kapur, bentuk kepala jelas, bernapas dengan paru-paru atau insang.

Menurut Suwignyo et al. 1998 diacu dalam Sulistiwan 2007, Pilsbryoconcha exilis mempunyai bentuk cangkang yang sama seimbang antar kiri dengan kanan, gigi lateral dan gigi pseudocardinal yang terpisah oleh umbonal cavity, cangkang dengan lapisan nacreous yang tebal.

Kijing atau nama lainnya yaitu Pilsbryoconcha exilis memiliki kandungan-kandungan asam amino yang tinggi yang mudah diserap oleh tubuh dan memiliki kandungan asam lemak tak jenuh berupa EPA dan DHA yang sangat dibutuhkan oleh tubuh karena memiliki banyak manfaat yaitu dapat mencerdaskan otak, membantu masa pertumbuhan dan menurunkan kadar trigliserida.

Daging kijing sekarang banyak dimanfaatkan untuk dijadikan bahan makanan yaitu dibuat kerupuk karena memang khasiat atau kandungan protein itu yang sangat tinggi.

Karena permintaan pasar lokal meningkat, maka usaha budidaya kerang hijau makin diintensifkan, khususnya di pantai utara Pulau Jawa. Hal ini memberikan gambaran bahwa aktivitas unit pengolahan kerang hijau semakin tinggi. Kegiatan pengolahan kerang hijau menghasilkan limbah padat yang cukup tinggi. Besarnya jumlah limbah padat cangkang kerang hijau yang dihasilkan, maka diperlukan upaya serius untuk menanganinya agar dapat bermanfaat dan mengurangi dampak negative terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Berdasarkan data ekspor hasil perikanan Indonesia pada tahun 2003 dan 2004, untuk komoditas koral dan kulit kerang dihasilkan sekitar 3 208 ton dan 2 752 ton (DKP 2005 diacu dalam Mathlubi 2006). Berkaitan dengan ketentuan CCRF (Code of Conduct for Responsible Fisheries), maka usaha pengolahan hasil perikanan harus dilakukan lebih optimal dan ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah padat kerang hijau belum dilakukan secara optimal oleh beberapa unit pengolahan ikan yang berkembang di Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah (added value) dari komoditas tersebut.

Tujuan dilaksanakan praktikum yang pertama ini tentang kijing lokal yaitu untuk mempelajari karakteristik kijing (Pilsbryoconcha exilis) yang meliputi ukuran, rendemen kijing, komposisi kimia dan kemunduran mutu.

2. METODOLOGI

2.1 Alat dan bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain yaitu mortar, penggaris, jangka sorong, pisau, timbangan analitik, plastik, label, baskom dan alat bedah. Bahan yang digunakan berupa dua jenis ukuran kijing lokal.

2.2 Prosedur kerja

Pada praktikum ini dalam penentuan karakteristik kijing meliputi morfometrik, rendemen, proksimat dan kemunduran mutu

Penentuan morfometrik atau ukuran meliputi berat, panjang, tinggi dan lebar kijing. Rendemen yang dihitung pada praktikum ini meliputi rendemen daging, cangkang dan jeroan yang sebelumnya telah dilakukan preparasi untuk mendapatkan daging, jeroan dan cangkang. Rendemen yang dihitung menggunakan rumus : Rendemen (%) = bobot contoh (g) x 100%

bobot total (g)

Setelah didapat rendemen dari kijing, sampel akan dianalisis kandungan proksimatnya. Analisis proksimat yang dilakukan terhadap daging kijing terdiri dari air, abu, protein dan lemak. Untuk praktikum ini ukuran kijing dibagi menjadi dua kelompok yaitu ukuran kecil (<9 cm) dan ukuran besar (>9 cm). Setiap kelompok kijing dianalisis kandungan proksimatnya dalam keadaan segar dan setelah dikukus.

Kemunduran mutu kijing diamati setiap hari sekali secara organoleptik. Setiap sampel kijing dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label kemudian diamati setiap satu hati sekali secara organoleptik.

Gambar 2. Diagram alir penentuan karakteristik kijing

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Ukuran dan berat kijing

Berdasarkan pengukuran yang telah dilaksanakan terhadap morfometrik kijing (Pilsbryoconcha exilis) didapat hasil perhitungan berupa berta total rata-rata, panjang total rata-rata, tinggi total rata-rata dan lebar total rata-rata.

Tabel 1. Ukuran dan berat kijing

Parameter

Nilai±SD

Berat total 27,5±9,17
Panjang total 92,46±16,67
Tinggi total 16,86±2,94
lebar total 41,54±6,89

Keterangan : Data diambil dari sampel

Pada praktikum ini kijing yang diamati yaitu kijing dengan ukuran besar. Hasil dari praktikum didapat bahwa berat total kijing sebesar 27,5 gr, panjang total 92,46 mm, tinggi total 16,86 mm dan lebar total 41,54 mm. Data ini didapat dari hasil pengukuran berat dengan menggunakan timbangan analitik, panjang diukur dari ujung posterior hingga ujung anterior cangkang, lebar diukur pada bagian yang tergemuk di bagian kiri ke bagian kanan cangkang dan tinggi diukur dari tepi dorsal ke tepi ventral cangkang.

Pertumbahan kijing dengan ukuran yang terbesar dengan berat sebesar 18,5 gr lebih besar dibandingkan dengan percobaan yang dilakukan. Hal ini dipengaruhai oleh faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Hepher dan Pruginin 1981 diacu dalam Sulistiawan 2007, pertumbuhan individu dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah yang berhubungan dengan kijing yaitu sifat genetik dan kondisi fisiologi kijing. Faktor eksternal adalah yang berhubungan dengan lingkungan yaitu komposisi kimia air, suhu, sisa metabolisme, ketersedian oksigen dan ketersediaan makanan.

3.2 Rendemen kijing

Rendemen merupakan bagian tubuh yang dapat dimanfaatkan. Dari hasil percobaan didapat rendemen berupa cangkang, jeroan dan daging. Data hasil rendemen dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Diagram pie rendemen kijing

Rendemen merupakan bagian tubuh yang bisa dimanfaatkan. Dari diagram pie yang didapat bahwa rendemen yang terbesar diperoleh dari cangkang sebesar 54,12% sedangkan untuk nilai rendemen yang terkecil didapat pada daging yaitu sebesar 20,19%. Untuk rendemen pada jeroan didapat sebesar 25,69%. Dari hasil rendemen yang didapat bahwa bagian cangkang yang bisa dimanfaatkan lebih besar dibandingkan bagian daging maupun jeroan.

Unionidae bermanfaat secara ekologis karena mampu menjernihkan air berkat efesiensinya menyaring partikel-partikel tersuspensi dan alga. Selain itu kerang Unionidae memiliki potensi ekonomis yaitu sebagai bahan pangan sumber protein bagi manusia, sumber pakan ternak, industri kancing dan penghasil mutiara (Prihartini 1999 diacu dalam Sulistiawan 2007) serta komoditas budidaya perikanan darat (Suwignyo et al., 1998 diacu dalam Sulistiawan 2007). Dari nilai rendemen yang didapat, nilai rendemen yang terbesar atau bagian tubuh yang paling besar untuk bisa dimanfaatkan yaitu  cangkang sebesar 54,12%, sedangkan daging hanya sebesar 20,19%.

3.3 Komposisi Kimia Kijing

Dalam suatu bahan pangan mempunyai nilai uji dalam uji proksimatnya antara lain kadar air, kadar abu, protein, lemak dan karbohidrat. Tabel 2 menunjukkan komposisi nilai dari uji proksimat.

Tabel 2. Komposisi kimia kijing

Senyawa

Nilai (%)

Hasil praktikum

Literatur*

Kadar air 82,08 85,1
Kadar abu 2,74 1,5
Protein 8,20 7,31
Lemak 1,44 0,64
Karbohidrat 5,54 5,5

Ket* Sumber : Suharjo et al (1997) diacu dalam hartono (2007)

Kandungan proksimat pada kijing berupa kadar air yang didapat dari hasil pengamatan yaitu sebesar 82,08%, kadar abu didapat sebesar 2,74%, protein didapat sebesar 8,20%, lemak sebesar 1,44% dan kandungan karbohidrat didapat sebesar 5,54%.

Kijing yang hidup pada perairan yang relatif tenang akan tumbuh lebih baik daripada kijing yang hidup dalam perairan yang mengalir (Suwignyo et al 1981 diacu dalam Sulistiawan 2007). Hal ini karena kijing bersifat filter feeder yang mekanisme pelaksanaan makan bergabung dengan mekanisme pernapasan yang berlangsung melalui sifon ventral dan aktivitas tersebut berlangsung terus manerus baik siang maupun malam. Ketika kijing menyaring air, maka zat-zat makanan seperti fitoplankton serta organisme mikroskopik lain akan ikut tersaring dan kemudian diubah menjadi jaringan tubuh. Kijing mampu menyaring volume air sebanyak 300 ml/jam (Turgeon 1988 diacu dalam Sulistiawan 2007).  Dari sini bisa dilihat bahwa kadar air pada kijing lebih besar dibandingkan dengan kandungan yang lainnya.

Menurut Mathlubi (2006) kadar air dan kadar abu pada kijing masing-masing sebesar 81,31% dan 3,37%. Tingginya kadar air pada bahan makanan akan memudahkan mikrooganisme-mikroorganisme tumbuh, sehingga menyebabkan perubahan pada bahan makanan sperti proses pembusukan. Rendahnya kadar air pada bahan makanan akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang daya simpan bahan makanan tersebut (Winarno 1992 diacu dalam hartono 2007).

Kadar protein hasil praktikum menunjukkan nilai 8,20%. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein juga mengandung fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Mathlubi 2006).

Kadar lemak yang dihitung yang ditunjukkan pada tabel 2 menunjukkan bahwa kadar lemak kijing hasil praktikum lebih besar dibandingkan dengan literatur. Kadar lemak hasil praktikum sebesar 1,44%, sedangkan kadar lemak dalam literatur adalah 0,64%.

Karbohidrat memiliki peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan seperti rasa, warna, dan tekstur. Karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya pemecahan protein berlebihan, kehilangan mineral, dan membantu metabolisme lemak dan protein. Karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian gliserol lemak (Mathlubi 2006). Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar karbohidrat hasil praktikum dan litertur tidak terjadi perbedaan yang cuup tinggi, kadar karbohidrat pada praktikum sebesar 5,54% dan pada litertur sebesar 5,5%

3.4 Kemunduran Mutu kijing

Kemunduran mutu dalam sebuah produk pangan menjadi landasan bahwa paroduk tersebut memang mengalami kemunduran mutu. Hal ini dapat dilihat dari pengujian sensori atau uji organoleptik pada produk pangan tersebut.

Mutu mengandung arti nilai-nilai tertentu yang diinginkan pada suatu materi, produk atau jasa, seperti pada hasil pertanian pada umumnya, hasil perikanan juga memiliki paling kurang beberapa aspek tertentu yang diinginkan dari ikan (Ilyas 1983 diacu dalam Hidayat 2004)

Gambar 4. Parameter penampakan kijing ukuran kecil

Keterangan : UK = Utuh kecil

TK = Tanpa jeroan kecil

Gambar 5. parameter penampakan kijing ukuran besar

Keterangan : UB = Utuh besar

TB = Tanpa jeroan besar

Untuk parameter penampakan ukuran kecil modus yang didapat pada hari ke-1 hingga hari ke-7 untuk jenis utuh kecil yaitu berturut-turut sebesar 9,7,5,7,5,5,3 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan kecil menunjukkan hasil yang relatif lebih kecil yaitu berturut-turut dari hari ke-1 hingga hari ke-7 sebesar 7,7,5,5,3,1,1.

Ini menunjukkan pada hari ke-1 untuk jenis utuh kecil terbilang masih utuh, rapi, warna spesifik jenis dan cemerlang  sedangkan untuk jenis tanpa jeroan kecil terbilang masih utuh, tidak rapi, warna spesifik jenis dan tidak cemerlang. Pada hari ke-7 atau hari terakhir pengamatan didapat hasil yang menurun. Hal ini didasari bahwa setiap produk pangan akan mengalami kemunduran mutunya. Pada hari ke-7 untuk jenis utuh kecil didapat modus sebesar 3 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan kecil didapat modus sebesar 1.

Perbedaan nilai uji sensori diatas disebabkan oleh 3 hal, yaitu :

1. Bahan yang diuji

2. Metode penilaian

3. Penguji/panelis

Untuk parameter penampakan kijing ukuran besar modus yang didapat pada hari ke-1 hingga hari ke-7 untuk jenis utuh besar berturut-turut sebesar 9,7,5,5,5,3,1 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar berturut–turut didapat sebesar 9,7,7,5,7,5,5,3.

Dari nilai modus yang didapat bahwa untuk jenis utuh besar dan tanpa jeroan besar didapat pada hari ke-1 masih terbilang utuh, rapi, warna spesifik jenis dan cemerlang sedangkan pada hari terakhir pengamatan atau pada hari ke-7 didapat nilai modus untuk jenis utuh besar lebih kecil dibandingkan dengan tanpa jeroan besar yaitu pada jenis utuh besar sudah rusak fisik dan berwarna coklat tua kusam sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar rusak fisik, berwarna kecoklatan dan agak kusam.

Pada parameter penampakan untuk ukuran kecil menunjukkan hasil yang lebih kecil dibandingkan dengan parameter penampakan kijing ukuran besar. Hal ini menunjukkan kualitas penampakan kijing untuk ukuran besar lebih bagus dibandingkan dengan kualitas penampakan kijing ukuran kecil.

Gambar 6. Parameter bau kijing ukuran kecil

Keterangan : UK = Utuh kecil

TK = Tanpa jeroan kecil

Gambar 7. Parameter bau kijing ukuran besar

Keterangan : UB = Utuh besar

TB = Tanpa jeroan besar

Pada parameter bau menunjukkan nilai modus pada jenis utuh kecil berturut-turut dari hari ke-1 hingga hari ke-7 didapat sebesar 5,7,5,7,5,3,3 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan kecil didapat nilai modus parameter bau berturut-turut dari hari ke-1 hingga hari ke-7 yaitu sebesar 9,5,5,5,3,3,1.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai modus pada hari ke-1 untuk jenis utuh kecil yaitu bau kurang segar, sedikit bau busuk dan bau tambahan yang cukup kuat sedangkan untuk jenis tanpa jeroan kecil yaitu menunjukkan bau yang  sangat segar spesifik jenis. Pada hari terakhir atau hari ke-7 menunjukkan bahwa nilai modus untuk jenis utuh kecil yaitu bau yang busuk disertai dengan bau tambahan yang cukup kuat sedangkan nilai modus hari ke-7 untuk jenis tanpa jeroan kecil menunjukkan bau busuk yang nyata sekali.

Pada parameter bau kijing ukuran besar menunjukkan nilai modus dari hari ke-1 hingga hari ke-7 untuk jenis utuh besar berturut-turut sebesar 7,5,5,5,3,1,1 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar nilai modus yang didapat dari hari ke-1 hingga hari ke-7 berturut-turut sebesar 7,5,5,3,3,3,1.

Nilai modus yang menunjukkan parameter bau pada hari ke-1 untuk masing-masing jenis utuh besar dan tanpa jeroan besar menunjukkan bahwa bau yang segar spesifik jenis, namun pada hari terakhir atau hari ke-7 menunjukkan nilai modus untuk masing-masing jenis yaitu bau yang busuk nyata sekali.

Nilai penurunan pada parameter bau atau aroma untuk ukuran besar lebih cepat dibandingkan dengan ukuran kecil. Penyebab cepat bau busuk untuk ukuran besar disebabkan oleh kandungan air yang lebih banyak sehingga bakteri lebih cepat tumbuh dan akan membuat kijing lebih cepat busuk serta lebih cepat mengeluarkan aroma yang tidak sedap.

Gambar 8. Parameter tekstur kijing ukuran kecil

Keterangan : UK = Utuh kecil

TK = Tanpa jeroan kecil

Gambar 9. Parameter tekstur kijing ukuran besar

Keterangan : UB = Utuh besar

TB = Tanpa jeroan besar

Pada parameter ini atau paramater tekstur yakni parameter yang memperlihatkan tekstur dari daging. Nilai modus yang didapat untuk jenis utuh kecil dari hari ke-1 hingga hari ke-7 berturut-turut sebesar 9,9,7,7,7,5,3,3 sedangkan untuk jenis utuh besar didapat hasil modus yang berbeda yakni berturut-turut sebesar 9,7,5,5,5,3,1.

Untuk nilai akuransi pada jenis utuh kecil dan tanpa jeroan kecil pada hari ke-1 menunjukkan bahwa tekstur daging yang kenyal, kompak dan elastis sedangkan pada hari terakhir pengamatan menunjukkan nilai dari kemunduran mutu untuk jenis utuh kecil yakni tekstur daging yang rapuh dan lunak namun untuk jenis tanpa jeroan kecil menunjukkan tekstur daging yang rapuh dan sangat lunak

Parameter tekstur kijing untuk ukuran besar mengalami perbedaan yang cukup tinggi. Dapat dilihat bahwa nilai modus untuk jenis utuh besar dari hari ke-1 hingga hari ke-7 berturut-turut yakni sebesar 7,7,5,5,3,1,1 sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar didapat nilai modus yang berbeda yakni berturut-turut dai hari ke-1 hingga hari ke-7 sebesar 9,9,7,7,7,7,3,5.

Dari nilai modus yang didapat pada hari ke-1 untuk jenis utuh besar menunjukkan nilai uji sensori sebesar 7 yakni tekstur daging yang cukup kenyal, kompak dan kurang elastis sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar nilai modus pada hari ke-1 menunjukkan tekstur daging yang kenyal, kompak dan elastis. Pada hari ke-7 pengamatan, nilai modus untuk jenis utuh besar menunjukkan tekstur daging yang rapuh dan cukup lunak sedangkan untuk jenis tanpa jeroan besar menunjukkan tekstur daging yang agak rapuh, tidak kompak dan tidak elastis.

Pada parameter tekstur, perbedaan dari masing-masing ukuran tidak terlalu signifikan. Dapat dilihat bahwa nilai rata-rata masing-masing ukuran memiliki nilai yang hampir sama. Hal ini tidak memperlihatkan bahwa dari masing-masing ukuran, ukuran kecil atau ukuran besar mempunyai nilai kemunduran mutu pada tekstur yang tidak terlalu berbeda.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pada praktikum ini kijing yang diamati yaitu kijing dengan ukuran besar. Hasil dari praktikum didapat bahwa berat total kijing sebesar 27,5 gr, panjang total 92,46 mm, tinggi total 16,86 mm dan lebar total 41,54 mm. Rendemen didapat setelah dilakukan preparasi. Rendemen yang dihitung berupa rendemen daging, cangkang dan jeroan. Nilai rendemen yang terbesar didapat dari rendemen cangkang yaitu sebesar 54,12% dan yang terkecil terdapat pada daging sebesar 20,19%. Rendemen pada jeroan didapat sebesar 25,69%.

Nilai komposisi kimia pada kijing untuk kandungan kadar air paling besar dibandingkan dengan yang lainnya. Nilai kadar air pada kijing sebesar 82,08%, kadar bau sebesar 2,74%, protein sebesar 8,20%, lemak sebesar 1,44%, dan pada karbohidrat sebesar 5,54%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan terbesar pada produk pangan yaitu terdapat pada kandungan airnya.

Kemunduran mutu pada kijing dilihat dari 3 parameter antara lain yaitu parameter penampakan, bau atau aroma dan tekstur. Dari masing-masing parameter didapat nilai yang berbeda-beda.

4.2 Saran

Dalam penentuan uji organoleptik haruslah sesuai standar yang telah ditentukan karena itu akan mempengaruhi nilai yang akan dicantumkan dalam scoresheet atau kertas uji. Dan mungkin dari hasil pengamatan yang 7 hari berturut-turut telah saya dapat kesimpulan bahwa kesehatanpun dapat mempengaruhi nilai yang akan dimasukkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Kijing. http://www.zierfischforum.at, 2007. (dimuat pada tanggal 15 Maret 2009)

  1. Hartono N. 2007. Pengaruh berbagai metode               pemasakan terhadap kelarutan mineral        kijing taiwan (Anodonta woodiana Lea)                 [skripsi]. Departemen Teknologi Hasil            Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu          Kelautan, IPB.

Hidayat D. 2004. Evaluasi identifikasi tingkat kemunduran mutu hasil perikanan tangkap ikan belanak (Mugil spp) (studi kasus di Muara Angke Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara) [skripsi]. Fakultas perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

  1. Mathlubi W. 2006. Studi karakteristik kerupuk kijing                 taiwan (Anodonta woodiana Lea) [skripsi].   Departemen Teknologi Hasil Perairan,                Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauta, IPB.
  2. Sulistiawan R S N. 2007. Potensi kijing           (pilsbryoconcha exilis, Lea) sebagai Biofilter               Perairan di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur.                 Jawa Barat.

10 responses to “KARAKTERISASI KIJING (Pilsbryoconcha exilis) DI PERAIRAN SITU GEDE, BOGOR

  1. yo sama2,,,
    doain gw y semoga tambah bagus lagi blognya, juga tulisan2 gw bisa dibaca banyak orang…
    thx

  2. maaf mas didaerah saya di kabupaten lebong banyak terdapat kijing yang besar di danau tes. saya lalu belajar mengolahnya menjadi kerupuk kijing.

  3. oya mas di litelatur saya dapat bahwa protein untuk kerangkerangan itu 18% dari buku suharjo dkk. judul skripsi saya tentang pembuatan kerupuk kijing jaboy mas. kerupuk tersebut juga saya lakukan uji organoleptik terhadap mutu hedonik kerupuk kijing. saya tertarik mengambil judul ini karna potensi kijing jaboy itu sendiri sangat melimpah di daerah saya.cuma saja kijing didaerah saya itu kijing sendok yang mempunyai nama latin Pseudodon Vandenbyshianus. rencananya saya ingin menjadikan peluang usaha kerupuk kijing ini. mohon bantuannya mas mengenai litelatur kijing ini. mohon kerjasamanya.

  4. terima kasih mas…
    o y di daerah demak tepatnya di kecamatan wedung desa bungo banyak banget produksi kijing. palagi pas musimnya. sehari paling sedikit 10 ton. disana belum ada pengolahan lebih. karena penelitian saya disana, saya ingin memberi saran pada pihak tpi untuk pengolahan kijing lebih lanjut.
    tolong sarannya y, biasnya kijing itu dapat diolag jadi apa saja?
    terima kasih…

  5. assalammualaikum,,,
    wah udh jadi mas apoy ya????
    saya butuh info mengenai pengolahan kijing spy tidak alot nih….
    gmn ya??

  6. wa’alaikum salam…
    waduh,,,mungkin neng suhana lebih faham kali y tentang pengolahan kijing supaya tidak alot…
    mungkin sedikit info aja, semua produk yang berbahan dasar daging jika ingin diawetkan dengan waktu yang cukup lama, sebaiknya digunakan sistem pendingin (refrigerator). hal ini juga dapat mempengaruhi alot tidaknya daging pada waktu proses pengolahan, dan yang lebih penting lagi, sistem pemanasan waktu pengolaham dilakukan dengan prosedur yang ada karena memang sewaktu proses pemanasan terjadi, sifat daging yang dilakukan saat proses pemanasan akan berubah, hal ini dapat dilihat dari fisiknya(warna daging).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s